Jumat, 07 April 2023

Gajah dan Kemarau

Gajah adalah mamalia darat yang terbesar di dunia. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah spesies mamalia endemik terbesar di Sumatera. Sebagaimana ukuran tubuhnya, otaknya pun juga sangat besar dan dapat berkembang. Sehingga ungkapan Memori Gajah bukanlah menjadi sebuah pepesan kosong belaka. Ungkapan ini ada karena gajah memang memiliki daya ingat yang luar biasa. Seekor gajah mampu mengingat kejadian yang dialaminya sejak kecil hingga dewasa. 

Kemampuan daya ingat inilah yang membuat gajah dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Pada saat musim kemarau panjang, gajah akan dapat menemukan kembali wilayah yang ada sumber air yang dulu pernah dilalui, sehingga kawanan gajah ini terbebas dari kekeringan. Pencarian air berdasarkan ingatan ini kadang menjadi salah satu pemicu konflik antara gajah dan manusia.  Bagaimana tidak, kubangan yang dulu tempat mereka mandi dan mendinginkan tubuh tiba-tiba menjadi kebun atau bahkan pemukiman warga. Konflik gajah dan manusia yang lain misalnya karena berkurangnya habitat gajah akibat alih fungsi hutan atau disebabkan karena kemarahan kawanan gajah akibat anggota keluarganya tewas dibunuh pemburu liar. Namun kejadian ini tidak bergantung dengan musim.

Jadi setiap musim kemarau tiba perlu diwaspadai adanya kemungkinan konflik antara gajah dan manusia. Sebagaimana diketahui, habitat gajah terbesar di Provinsi Jambi berada di Kabupaten Tebo yaitu di kawasan bukit tiga puluh. Dilansir dari Mongabai Indonesia tahun 2018, ada sekitar 143 ekor gajah di kawasan ini. Disamping itu juga ada habitat gajah di Kabupaten Sarolangun dan Kerinci yang jumlahnya tidak terdata.

Bagaimana dengan kemarau tahun 2023 ini ? 

Beberapa hari yang lalu, Stasiun Klimatologi Jambi baru saja merilis Prakiraan Musim Kemarau 2023 untuk Provinsi Jambi. dari rilis tersebut dapat disimpulkan bahwa, secara umum awal musim kemarau tahun 2023 di Provinsi Jambi dimulai pada bulan Mei Dasarian I hingga Juni dasarian I dengan sifat hujan musim kemarau yang cenderung Normal. Dimana puncak musim kemarau di Provinsi Jambi tahun ini diprediksi terjadi di bulan Juli hingga Agustus 2023. Hal ini tentu sedikit melegakan, walaupun tahun 2023 ini diprediksi lebih kering dari tahun 2022 yang lalu tapi curah hujan masih masuk dalam kategori Normal.  

Triple dip La Nina memang telah berakhir, ENSO diprediksi BMKG akan memasuki fase Netral setidaknya hingga pertengahan tahun 2023. Begitu pula dengan IOD, fase positif saat ini diprediksi akan menuju Netral juga. Namun tetap perlu diwaspadai akan kemungkinan terjadinya El Nino Lemah yang diprediksi oleh beberapa Lembaga Internasional. Sebagaimana mereka juga memprediksi akan terjadinya kondisi IOD Positif. Kombinasi keduanya sedikit banyak tentu  akan mengurangi curah hujan di Indonesia khususnya di Provinsi Jambi.

Menarik ditunggu kemana arah ENSO selanjutnya, karena titik kritis ada di bulan Mei. Jika anomali SST Nino3.4 terus naik positif di bulan Mei tersebut maka El Nino lah yang akan terjadi tetapi jika anomali SST Nino3.4 turun mengikuti pola Klimatologisnya maka fase Netral yang akan terjadi.

Kembali ke soal gajah. Ada fakta menarik terkait hewan satu ini, yaitu adanya proses dispersal dimana gajah jantan dewasa akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk mencari wilayah jelajah baru dan menghindari perkawinan sedarah. Agaknya inilah yang menyebabkan kepintaran gajah tetap terjaga karena selalu terjadi kawin silang, sehingga ungkapan Memori Gajah tentu akan terus lestari.   

QUOTE :

"Jika ingatan tak lagi diingat, otak menganggapnya kurang penting dan dibuang untuk dilupakan. Sebaliknya, semakin sering ingatan diakses, otak akan semakin mengingatnya".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar