Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2020

Johor Bahru Edisi Wisata Dadakan


 
Pelabuhan Ferry Batam Center
Jam menunjukkan pukul 14.30 WIB, Ferry Majestic yang membawa kami dari pelabuhan HarbourFront Singapura ke Batam Center segera akan bersandar. Seperti mimpi saja rasanya karena baru saja selesai menjelajahi negara Singa tersebut (baca: https://arifmarufi.blogspot.com/2020/01/wisata-singapura-kemana-mana-naik-mrt.html). Saya melirik isi dompet, masih lumayan banyak yaitu sekitar 170 SGD atau sekitar 1.7juta rupiah. Alhamdulillah..........................

Rabu, 15 Januari 2020

Wisata Singapura : Kemana-mana Naik MRT

Peta Sistem MRTdan LRT Singapura

Libur akhir tahun 2019 kali ini saya ingin share perjalanan saya dan istri ke Singapura. Hal utama yang kami persiapkan sebelum perjalanan ke luar negeri adalah PASPOR dan kelengkapan identitas diri seperti KTP dan sebagainya. Menurut aturan, Paspor yang bisa diterima adalah paspor yang masa berlakunya lebih dari 6 bulan. So mesti teliti ya gaessss.....

Setelah semuanya lengkap, maka perjalanan pun dimulai. Kami memilih berangkat melalui Pulau Batam untuk mencoba jalur yang baru (jalur laut) karena sebelumnya saya pernah ke Singapura melalui Jakarta dengan pesawat terbang. Kami berdomisili di Provinsi Jambi, pesawat Jambi-Batam terbang pagi hari jam 07.30 WIB, tidak sampai 1 jam kemudian pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Hang Nadim Batam.

Bandara Hang Nadim Batam

Rabu, 11 Desember 2019

Short Research Visit Ke Jepang


Latar Belakang dan Persiapan

Semua berawal dari pertemuan di akhir tahun 2017. Tepatnya 6 November 2017, dimana kantor kami dikunjungi oleh seorang Pengajar dari Disaster Prevention Research Institute-Kyoto University DPRI-KU dan seorang peneliti dari Limnologi-LIPI. Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk mensosialisasikan kegiatan riset multiyears tentang Topik Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Kebetulan saya ditunjuk oleh pimpinan untuk memberikan presentasi tentang kondisi iklim DAS Batanghari dan perubahannya. Gayung bersambut, mereka tertarik dan secara spontan mengutarakan keinginannya mengundang saya untuk bergabung dalam tim riset mereka dan melaksanakan riset di DPRI-KU Jepang. 

Waktu pun berlalu dengan cepat, hingga di bulan september 2018 saya dihubungi untuk melengkapi formulir daftar isian sebagai Invited Researcher di DPRI-KU. Daftar isian tersebut meliputi data diri, pendidikan, dan pengalaman bekerja. Dua minggu setelah mengirimkan daftar isian, saya pun memperoleh Invitation Letter sebagai Invited Researcher di DPRI-KU, untuk periode 15 Januari - 30 Maret 2019. Awalnya saya sangat senang, namun setelah googling tentang cuaca di Jepang pada periode tersebut saya khawatir juga. Untuk diketahui bahwa saya termasuk orang yang nggak tahan dengan suhu dingin, dan pada bulan Januari merupakan termasuk bulan terdingin di Jepang. Tawar punya tawar, akhirnya saya minta masa kunjungan saya dipersingkat menjadi 15 Februari - 30 Maret 2019, dan disetujui oleh pihak DPRI-KU. Yes.. anak kampung Ulu Gedong dari Jambi Kota Seberang ini akan segera ke Jepang.... he he he...

Setelah mengurus segala perizinan, akhirnya saya memperoleh VISA untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Setelah keluar VISA, pihak sekretariat DPRI-KU meminta saya untuk mendaftar tempat tinggal secara online di Ohbaku International House dan Uji International House. Kedua international house tersebut dibawah pengelolaan Kyoto University dan letaknya sangat dekat dengan Kampus Uji dimana nanti saya akan melaksanakan kegiatan. Karena banyaknya peminat dan terbatasnya ruang kamar, maka harus dilaksanakan undian untuk mendapatkan tempat tersebut.

Saya kurang beruntung, dua kali mendaftar saya gagal mendapatkan kamar. Sementara kolega saya berhasil memenangkan undian untuk tinggal di Ohbaku International House (Single Room). Dan untuk saya, pihak sekretariat menyewakan sebuah family room di Muakijima Gakusei Center. Mukaijima adalah sebuah apartemen milik swasta sehingga harga sewanya jauh lebih mahal. Sewa kamar family room untuk 1,5 bulan sekitar 75.600 Yen ditambah 6000 Yen untuk service charge, ditambah juga biaya sewa kasur dan selimut serta biaya listrik. Total hampir 15 juta rupiah. Namun saya tidak perlu memikirkan soal biaya tersebut karena semua biaya sudah ditanggung oleh sekretariat. 
Mukaijima Gakusei Center

Perjalanan  Ke Kyoto
Hari H pun tiba (14 Februari 2019). Saya memilih penerbangan Garuda mengingat jaminan kehalalan makanan yang disajikan dalam pesawat nantinya. Harga tiketnya lumayan mahal yaitu sekitar 8.6 juta rupiah dari Jambi-Kansai untuk satu kali jalan, namun saya tidak perlu khawatir karena semua akomodasi bakal diganti oleh DPRI-KU. Rute penerbangan saya waktu itu adalah Jambi (DJB) - Jakarta (CGK) - Denpasar (DPS) - Kansai (KIX). 

Saya tiba di Bandara Kansai (KIX) pada 15 Februari 2019 pukul 08.30 Pagi waktu setempat (selisih waktu dengan Jambi adalah 2 jam lebih cepat). Sempat cemas dengan pemeriksaan imigrasi, namun ternyata semua berlangsung dengan sangat lancar. Setelah mengambil bagasi dan melewati pemeriksaan x-ray terakhir, ternyata saya sudah ditunggu oleh petugas MK-TAXI. Kebetulan kolega saya sudah memesankan taxi secara online mengingat saya datang sendiri dan baru pertama kali ke Jepang. MK-TAXI yang saya tumpangi merupakan sebuah mobil engkel yang bisa ditumpangi banyak orang. Perjalanan dari bandara Kansai ke Mukaijaima Gakusei Center di Kota Uji sekitar 2.5 jam karena sopirnya mengambil jalan memutar menghindari kemacetan pada jalur utama.

Setelah sampai di Mukaijima, saya mendapat kabar yang kurang baik, dimana kamar yang dibooking oleh sekretariat ternyata baru bisa ditempati keesokan harinya pada tanggal 16 Februari 2019. Sempat bingung, tapi hari itu saya beruntung karena seorang kolega yang berasal dari India bersedia menumpangi saya malam itu di kamarnya. Dr. Netrananda Sahu namanya. Beliau sedang melaksanakan postdoc pada lab yang sama dengan lab yang akan saya tuju. Tidak hanya sampai disitu, Sahu-san juga meminjamkan sepedanya buat saya selama beliau pulang ke India besok harinya. Alhamdulillah... selalu ada orang baik yang membantu tanpa perlu bertanya apa Suku, Bangsa, Agama dan Ras .... salam kemanusiaan....

Bersama Dr. Netrananda Sahu
Saya bergabung di lab Takara (Prof. Kaori Takara) DPRI-KU. Lab ini terletak di Kampus Uji Kyoto University. Perlu diketahui bahwa Kyoto University memiliki tiga kampus yaitu Kampus Yoshida (Kampus Utama) terletak di Pusat Kota Kyoto yang merupakan kampus utama bagi mahasiswa S1, kemudian Kampus Uji terletak di Kota Uji untuk mahasiswa S2 dan S3 merupakan pusat riset energi dan ilmu alam, dan terakhir Kampus Katsura (berdiri sejak 2003) yang terletak sekitar 7 KM dari Kampus Utama Yoshida.

Di Depan Kampus Uji Kyoto University
Di Depan Kampus Yoshida Kyoto University dengan Ikon Utama Pohon Beringin

Kegiatan Selama di Kyoto University

Minggu pertama hanya diisi dengan berkenalan dengan lingkungan dan anggota laboratorium. Laboratorium Takara terdiri dari beberapa ruangan seperti : Ruang Profesor, Ruang Associate Profesor, Ruang Sekretaris, Ruang Mahasiswa S2 dan S3 yang dapat menampung banyak mahasiswa, dan ruang serbaguna yang kami gunakan. Selain saya dan rekan, juga ada Visited Profesor dari McGill University yang bernama Prof. Van Thanh Van Nguyen. Dan seorang peneliti dari Myanmar yang bernama Wai Mi Myat.

Bersama Prof. Van dan Way Mi Myat
Suasana Ruang Kerja di Lab Takara DPRI-KU
Hari-hari berikutnya diisi dengan melaksanakan penelitian yang diselingi dengan berbagai seminar dan Party (jamuan makan), serta jalan-jalan tentunya he he he...

Saya kebagian mengolah data proyeksi dari Meteorological Research Institute (MRI) yang berupa data iklim resolusi 5 km untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari Jambi periode Present (1980-2000) dan Future (2079-2100). Setiap minggu diadakan seminar laboratorium dimana setiap anggota mempresentasikan progres risetnya dan mendapat arahan dari Sensei.
Suasana Seminar Internal Lab
Van Sensei Memberikan Materi
Disamping melaksanakan riset, kami juga diarahkan untuk mengikuti berbagai seminar dan pertemuan seperti : Seminar Tahunan DPRI-KU tanggal 19-23 Februari 2019 (khusus presentasi dalam bahasa Inggris), menghadiri kunjungan dari Tim Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia tanggal 26-02-2019, Seminar Japan-Asean Science, Technology and Innovation Plattform (JASTIP) dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) tanggal 11-03-2019, Seminar For Remote Sensing Research in Indonesia tanggal 14-03-2019, Seminar Global Alliance of Disaster Research Institute (GADRI) tanggal 13-15 Maret 2019.
Kunjungan Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia
Seminar Internal DPRI-KU
Seminar JASTIP
Seminar For Remote Sensing Research in Indonesia
Selain seminar, ada kegiatan jamuan makan (party) yang merupakan salah satu kegiatan informal yang sayang jika dilewatkan. Jamuan makan dilakukan untuk menyambut anggota lab yang baru, melepas anggota lab yang akan keluar, merayakan kelulusan anggota lab dan sebagainya.



Untuk jalan-jalan, saya posting dalam judul yang lain ya.. Wisata Kyoto, Wisata Kota Kobe dan Osaka, Wisata Nabana No Sato Illumination.... silahkan dibaca ya gaesssss....

Untuk urusan makan, saya membawa 1 dus mie instan dari tanah air, kopi dan teh, serta 2 kg abon ikan. Jadi untuk sarapan pagi saya membeli nasi siap saji yang tersedia di Lawson Store dengan lauk telur ceplok atau dadar dengan abon ikan atau mie instan (kamar yang saya tempati sudah tersedia kompor listrik dan kulkas sehingga bisa masak dengan bebas). Sedangkan makan siang di kantin kampus dengan harga murah meriah. Namun mesti teliti memilih menu supaya tidak termakan menu yang tidak halal. Oh iya, saya lupa sampaikan bahwa jam kerja kami adalah jam 09.00 sd 17.00. Namun kami terbiasa pulang ke apartemen setelah shalat Maghrib atau bahkan setelah shalat Isya. Jadi makan malam lebih sering di kantin kampus. Penghematan gaesss he he he......

Salah Satu Menu di Kantin Kampus Uji (hanya 500an Yen)
Suasana Kantin Saat Makan Siang

Kembali Ke Tanah Air
Waktu berjalan dengan cepat, beberapa hari lagi tanggal 30 Maret 2019 dimana kami harus meninggalkan Kota Kyoto. Sudah waktunya bersih-bersih kamar. Aturan apartemen Mukaijima menyebutkan bahwa sehari sebelum checkout kamar harus bersih dan tidak ada satu barang pun yang tertinggal. Akan diadakan inspeksi dari pengelola apartemen untuk memastikan hal tersebut. Jika lantai, dapur, balkon, dan kamar mandi dinyatakan masih kotor maka siap-siap denda maksimal 11.000 Yen menanti... Aturan yang berbeda dengan di negara kita. Ya kedisiplinan adalah salah satu pelajaran berharga dari negara ini.

Sebelum kembali ke tanah air, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh seperti jajanan ringan untuk keluarga dan teman di tanah air. Kebetulan ada toko pusat oleh-oleh yang sangat murah di Rokujizo.. kami pun meluncur kesana dengan menggunakan sepeda tentunya....

@Rokujizo
Mencoba Sukiyaki di Rokujizo

Bandara Kansai
Sempat delay lebih dari 2 jam, akhirnya pesawat Garuda rute Kansai-Denpasar take off juga.. Selamat tinggal Kyoto dan semoga bisa kembali.... Welcome Indonesia... 

Senin, 09 Desember 2019

Wisata Nabana No Sato Illumination - Jepang

Malam itu tiba-tiba saya mendapat pesan WhatsApp dari salah seorang pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kansai-Jepang, yang isinya mengajak berwisata ke Nabana No Sato Illumination. Dengan senang hati saya menerimanya tentu saja. Alhamdulillah, baru dua minggu di Jepang sudah dapat temen yang baik dan mengajak berwisata... terima kasih kawan....

Nabana No Sato terletak di pinggir kota Nagoya. Untuk mencapai tempat tersebut, kami merental mobil dari salah seorang pengusaha rental asal Indonesia di Kyoto. Kami merental sebuah mobil mewah yang di negara kita mungkin hanya digunakan oleh para pejabat tinggi atau pengusaha kaya. Kebetulan ada seorang anggota PPI yang memiliki SIM setempat sehingga kami bisa lebih nyaman dalam perjalanan. Sebelum sampai ke lokasi, kami menyempatkan diri untuk shalat dzuhur dan Ashar (jamak) dengan menumpang di salah satu swalayan di pinggir jalan. Butuh waktu 1,5 jam perjalanan dari Kota Uji (tempat tinggal kami) menuju lokasi. Kami tiba di lokasi sekitar jam 05.00 sore, sehingga masih ada waktu untuk sedikit santai sebelum masuk ke arena.

Pose dulu sebelum masuk pintu gerbang






 
Harga tiket masuk sebesar 2.300 Yen (sekitar Rp. 300rb) dengan bonus voucher makan sebesar 1000 Yen yang bisa digunakan di berbagai restoran dan toko suvenir yang bertanda khusus. Di musim dingin seperti saat itu, Nabana No Sato dihiasi oleh jutaan lampu warna warni. Maka sangat disarankan untuk mengunjungi tempat ini pada malam hari. Ada rute yang harus dilewati dan diberi petunjuk arah sehingga tidak terjadi stag akibat ramainya lalu lintas pengunjung.




Begitu melewati pintu gerbang, kami langsung menuju taman bunga yang luas. Taman ini dihiasi oleh berbagai bunga yang indah dengan dipadu lampu-lampu hias yang berwarna-warni. Sebagian besar bunga Sakura dari jenis tertentu, cukup mengherankan karena belum lagi musim Hanami (mekarnya sakura di Jepang) namun di Nabana No Sato sudah mekar sakuranya. Sepertinya pengelola tempat wisata ini mempunyai trik khusus untuk membuat bunga sakura itu mekar sebelum musim.....





Salah satu wahana yang paling terkenal di Nabana No Sato adalah Light Tunnel yaitu terowongan cahaya sepanjang 200 meter yang dihiasi lampu LED warna-warni. Light Tunnel ini sangat instagramable. Perlu kesabaran untuk menunggu sedikit sepi (terkadang kami menghadang pengunjung yang lewat) sehingga foto yang diambil akan lebih bagus. Untuk yang sangat suka hal-hal berbau romantis, Nabana no sato memiliki Sakura Tunnel, atau terowongan Sakura yang berwarna pink di sebelahnya.



Wahana lain yang tidak kalah terkenal adalah Illumination atau iluminasi lampu yang luar biasa indah dan spektakuler. Illuminasi lampu ini berlangsung sejak bulan Oktober hingga bulan Mei, dengan 8 juta lampu LED.


Untuk urusan makan, saya tidak perlu khawatir karena temen-temen PPI rata-rata bisa bahasa jepang sehingga dapat memilih menu halal bagi kami. Dengan menggunakan voucher yang diberikan saat membeli tiket kami pun memilih menu masing-masing. Harga makanan cukup mahal, sehingga voucher 1000 Yen yang kami punya saat beli tiket masuk ternyata belum cukup, rata-rata kami harus nombok 500 Yen, but it's OK yang penting bisa makan. Saya mencoba Tempura Soba dengan porsi gede... maknyuuus.


Setelah makan, masih ada satu wahana yang ingin kami coba yaitu menaiki tower Nabana No Sato. Tiketnya 500 Yen. Dari tower ini kami bisa melihat area Nabana No Sato dan pinggiran kota Nagoya yang sangat indah dari ketinggian. Setiap blok ditempatkan seorang penjaga untuk mengingatkan pengunjung agar tidak mendekati pinggir pagar tower.



Setelah turun dari tower, kami memutuskan untuk kembali ke rumah karena hari sudah mendekati larut malam. Pengalaman sangat berharga bagi saya yang baru saja dua minggu tinggal di Jepang. Terima kasih kawan-kawan PPI Kansai atas kebaikan kalian semua... saya doakan semoga studinya pada lancar...aamiiiin.
 


Jumat, 06 Desember 2019

Wisata Kota Kobe dan Osaka

Masih bersama wisatawan asal Indonesia (baca bagian 1 : Wisata Kyoto). Untuk menuju Kota Kobe, dari Kyoto Station kami mengambil kereta JR Rapid dengan menempuh waktu sekitar 52 menit dan harga tiketnya 1080 Yen. Tujuan pertama kami adalah stasiun Sannomiya Kobe. Keluar dari stasiun butuh sekitar 15 menit berjalan kaki untuk mencapai Sannomiya Kobe yang merupakan sebuah pusat perbelanjaan. Disini kami bisa menemukan banyak pusat penjualan fashion dan aksesories dengan suasana santai.  

Selanjutnya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit ke arah barat menuju stasiun Motomachi maka sampailah kami di Kobe Chinatown. Sepanjang wilayah Chinatown ini banyak sekali penjual makanan khas China, namun dari informasi yang kami dapat rata-rata makanan yang dijual disini merupakan makanan tidak halal bagi kami yang muslim. Jadi kami hanya berjalan-jalan menyusuri hampir setiap sudut Chinatown ini sambil mengambil gambar.


Untuk urusan makan, kami memilih untuk mencoba Kobe Beef yang terkenal itu. Kobe Beef atau Daging Sapi Kobe adalah daya tarik utama di Prefektur Hyogo Jepang. Menu steak setengah matang sangat menggugah selera. Harganya lumayan mahal, sekitar 2500 Yen atau sekitar Rp. 312.500,- per 250 gram. Masih tidak ada label halal tapi setidaknya kami yakin bahwa bahan utamanya adalah daging sapi (halal), jadi dengan diawali bismillah tiga kali kami pun menyantapnya......


Sebelum meninggalkan kawasan ini, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh yaitu berupa sepatu Onitsuka Tiger. Harganya lumayan mahal, yaitu sekitar 9.000 - 16.000 Yen dan bahkan lebih. Namun demi hadiah ulang tahun istri, dibungkus deh sepatunya. Bagi para wisatawan, diberikan free pajak untuk pembelian sepatu Onitsuka Tiger dengan menunjukkan Paspor masing-masing.


Perjalanan dilanjutkan ke Port Kobe, untuk mencapai Port Kobe kami mengambil JR Kobe Line dan turun di Kobe Station. Keluar dari Stasiun Kobe langsung berjalan kaki ke Kobe Harborland. Kobe Harborland adalah tempat perbelanjaan dan hiburan yang berada di sepanjang tepi daerah pelabuhan Kobe, menawarkan banyak kafe, restoran, toko-toko dan hiburan lainnya. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi Kobe Harborland, kami langsung menuju Port Kobe yang masih berada dalam satu kawasan. Pelabuhan Kobe merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Jepang. 



Satu lokasi yang tidak sempat kami singgahi adalah Mesjid Kobe. Mesjid ini merupakan mesjid tertua di Jepang yang didirikan tahun 1935. Mesjid Kobe menggunakan arsitektur Turki tradisional. Konon mesjid Kobe merupakan salah satu bangunan yang selamat dari dua kejadian besar yaitu Bom pada perang dunia ke-2 tahun 1945 dan gempa Kobe tahun 1995 yang berkekuatan 7.3 SR.... Subhanallah....Semoga suatu saat kami dapat kesempatan mengunjungi mesjid Kobe....Aamiiiin.

Karena sudah malam, perjalanan ke Osaka kami tunda esok harinya.
 
Dan besoknya kami pun baru bisa sampai Kota Osaka setelah sore hari karena adanya beberapa kesibukan di Lab Kampus. Tujuan utama kami di Osaka adalah Dotonbori Osaka. Dotonbori dapat disebut juga 'Malioboro' nya Osaka. Nama Dotonbori digunakan untuk menyebut kawasan yang membentang sepanjang Kanal Dotonbori, dari Jembatan Dotonboribashi hingga ke Jembatan Nipponbashi di Distrik Namba, Osaka. Di sepanjang kanal ini, kami bisa menyaksikan aneka pertokoan yang bikin ngiler. Sebelum pulang kami mencoba Spicy Ramen Halal di Dotonbori, rasanya lumayan pedas. Alhamdulillah, nemu juga makanan yang tidak hambar di sini dan yang terpenting halal.................. Bismillah 3x.








Sampai disini tugas kami sebagai tour guide dinyatakan selesai, karena rombongan wisatawan dari Indonesia tersebut akan bergerak menuju Tokyo untuk kembali ke Indonesia keesokan harinya. Selamat jalan semoga lancar sampai tujuan.....