Selasa, 10 Desember 2019

Panoply Sebagai Pengolah Data NetCDF

NetCDF (Network Common Data Form) adalah format file untuk menyimpan data ilmiah multidimensi (variabel) seperti suhu, kelembaban, tekanan, kecepatan angin, dan arah. Masing-masing variabel ini dapat ditampilkan melalui dimensi (seperti waktu). Jadi dalam penyimpanannya, NetCDF mempunyai dimensi. Dimensi-dimensi ini biasanya adalah waktu (time), lintang (latitude), dan bujur (longitude), yang berbentuk matriks.
Struktur Data NetCDF

Panoply adalah aplikasi berbasis Java yang dapat digunakan untuk mengelola barisan grid-grid (geo-gridded array) dari file netCDF (.nc), HDF, dan GRIB. Software Panoply dapat diunduh secara gratis di http://www.giss.nasa.gov/tools/panoply/download_win.html. Kelebihan aplikasi ini dibandingkan aplikasi lain yang sejenis adalah mudahnya dalam penggunaan karena tersedia GUI yang simpel. Jadi tidak perlu rumit memikirkan syntax seperti pada aplikasi Grid Analisys dan Display System (GrADS) dan aplikasi lainnya.

Software Panoply dikembangkan oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) – Goddard Institue for Space Studies (GISS) yang terletak di Morningside Heights, Columbia University, New York City.

Software Panoply dapat digunakan untuk :
  • Memotong dan plot array geografis-garis bujur, garis lintang, garis bujur, garis bujur waktu, atau garis waktu vertikal dari variabel multidimensi yang lebih besar.
  • Memotong dan petak array 2D "generik" dari variabel multidimensi yang lebih besar.
  • Memotong array 1D dari variabel multidimensi yang lebih besar dan buat plot garis.
  • Menggabung dua array geo-referensi dalam satu plot dengan membedakan, menjumlahkan, atau rata-rata.
  • Plot data lon-lat pada peta global atau regional menggunakan lebih dari 100 proyeksi peta atau buat plot garis rata-rata zona.
  • Overlay batas benua atau masking pada plot peta lon-lat.
  • Menggunakan salah satu dari banyak tabel warna untuk skala colorbar, atau menerapkan tabel warna ACT, CPT, atau RGB sesuai keinginan user.
  • Menyimpan hasil plot ke disk gambar bitmap GIF, JPEG, PNG atau TIFF atau sebagai file grafik PDF atau PostScript.
  • Ekspor plot peta lon-lat dalam format KMZ. 
  • Membuka dan mengeksplor katalog THREDDS dan OpenDAP. 
  • Eksport animasi dalam format video MP4
Karena berbasis bahasa pemrograman Java maka Panoply membutuhkan aplikasi Java untuk bisa dijalankan. Aplikasi Java dapat diperoleh free di http://www.java.com/en/download/manual.jsp

Berikut adalah cara mengelola file netCDF (.nc) dengan menggunakan Software Panoply :

Double click pada icon Panoply. Maka akan muncul tampilan seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
 

Setelah itu maka akan muncul kotak dialog untuk membuka file netCDF(.nc).  Double click atau pilih open pada file yang dikehendaki.
Pada dialog “Datasets Browser” klik dua kali file yang telah dibuka tadi, yaitu olra atau outgoing longwave radiation anomaly. Kotak dialog ini bisa berisi beberapa file yang dapat dibuka secara bersamaan.

Muncul dialog “Select Plot Type”, disini dapat memilih jenis plot yang diinginkan. Jika memilih Lon-Lat, artinya akan melihat ploting berdasarkan bujur-lintangnya. Jika dipilih menu “Time-lat” berarti anda akan melihat hasil ploting berdasarkan waktu dan lintangnya.

Ketika menu “Lon-Lat” dipilih maka akan ada dua pilihan tampilan yaitu hasil ploting olra (outgoing longwave radiation anomaly) secara langsung, dan nilai numerik yang dapat kita lihat pada bagian “array1”. Seperti terlihat pada tampilan gambar dibawah di bawah ini.



Untuk mendapatkan nilai numerik dari data tersebut, tinggal klim menu “array1”. Pengambilan data dapat dilakukan dengan memotong (cropping) langsung data yang tersedia sesuai dengan bujur-lintang yang dibutuhkan, kemudian dapat dipindahkan ke Microsoft Excel atau software pengolah data yang lain.


Misalnya dengan memotong (cropping) wilayah Indonesia, yaitu pada 6.5280 LU – 12.1240 LS dan 93.750 – 142.5000 BT.


Untuk menyimpan semua nilai numerik kedalam file .txt, dapat dilakukan dengan klik menu File - Export Data - As Labeled Text. Kemudian tinggal memberi nama file dan mengarahkan ke tempat penyimpanan yang diinginkan.



Semoga bermanfaat.....
     


Senin, 09 Desember 2019

Wisata Nabana No Sato Illumination - Jepang

Malam itu tiba-tiba saya mendapat pesan WhatsApp dari salah seorang pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kansai-Jepang, yang isinya mengajak berwisata ke Nabana No Sato Illumination. Dengan senang hati saya menerimanya tentu saja. Alhamdulillah, baru dua minggu di Jepang sudah dapat temen yang baik dan mengajak berwisata... terima kasih kawan....

Nabana No Sato terletak di pinggir kota Nagoya. Untuk mencapai tempat tersebut, kami merental mobil dari salah seorang pengusaha rental asal Indonesia di Kyoto. Kami merental sebuah mobil mewah yang di negara kita mungkin hanya digunakan oleh para pejabat tinggi atau pengusaha kaya. Kebetulan ada seorang anggota PPI yang memiliki SIM setempat sehingga kami bisa lebih nyaman dalam perjalanan. Sebelum sampai ke lokasi, kami menyempatkan diri untuk shalat dzuhur dan Ashar (jamak) dengan menumpang di salah satu swalayan di pinggir jalan. Butuh waktu 1,5 jam perjalanan dari Kota Uji (tempat tinggal kami) menuju lokasi. Kami tiba di lokasi sekitar jam 05.00 sore, sehingga masih ada waktu untuk sedikit santai sebelum masuk ke arena.

Pose dulu sebelum masuk pintu gerbang






 
Harga tiket masuk sebesar 2.300 Yen (sekitar Rp. 300rb) dengan bonus voucher makan sebesar 1000 Yen yang bisa digunakan di berbagai restoran dan toko suvenir yang bertanda khusus. Di musim dingin seperti saat itu, Nabana No Sato dihiasi oleh jutaan lampu warna warni. Maka sangat disarankan untuk mengunjungi tempat ini pada malam hari. Ada rute yang harus dilewati dan diberi petunjuk arah sehingga tidak terjadi stag akibat ramainya lalu lintas pengunjung.




Begitu melewati pintu gerbang, kami langsung menuju taman bunga yang luas. Taman ini dihiasi oleh berbagai bunga yang indah dengan dipadu lampu-lampu hias yang berwarna-warni. Sebagian besar bunga Sakura dari jenis tertentu, cukup mengherankan karena belum lagi musim Hanami (mekarnya sakura di Jepang) namun di Nabana No Sato sudah mekar sakuranya. Sepertinya pengelola tempat wisata ini mempunyai trik khusus untuk membuat bunga sakura itu mekar sebelum musim.....





Salah satu wahana yang paling terkenal di Nabana No Sato adalah Light Tunnel yaitu terowongan cahaya sepanjang 200 meter yang dihiasi lampu LED warna-warni. Light Tunnel ini sangat instagramable. Perlu kesabaran untuk menunggu sedikit sepi (terkadang kami menghadang pengunjung yang lewat) sehingga foto yang diambil akan lebih bagus. Untuk yang sangat suka hal-hal berbau romantis, Nabana no sato memiliki Sakura Tunnel, atau terowongan Sakura yang berwarna pink di sebelahnya.



Wahana lain yang tidak kalah terkenal adalah Illumination atau iluminasi lampu yang luar biasa indah dan spektakuler. Illuminasi lampu ini berlangsung sejak bulan Oktober hingga bulan Mei, dengan 8 juta lampu LED.


Untuk urusan makan, saya tidak perlu khawatir karena temen-temen PPI rata-rata bisa bahasa jepang sehingga dapat memilih menu halal bagi kami. Dengan menggunakan voucher yang diberikan saat membeli tiket kami pun memilih menu masing-masing. Harga makanan cukup mahal, sehingga voucher 1000 Yen yang kami punya saat beli tiket masuk ternyata belum cukup, rata-rata kami harus nombok 500 Yen, but it's OK yang penting bisa makan. Saya mencoba Tempura Soba dengan porsi gede... maknyuuus.


Setelah makan, masih ada satu wahana yang ingin kami coba yaitu menaiki tower Nabana No Sato. Tiketnya 500 Yen. Dari tower ini kami bisa melihat area Nabana No Sato dan pinggiran kota Nagoya yang sangat indah dari ketinggian. Setiap blok ditempatkan seorang penjaga untuk mengingatkan pengunjung agar tidak mendekati pinggir pagar tower.



Setelah turun dari tower, kami memutuskan untuk kembali ke rumah karena hari sudah mendekati larut malam. Pengalaman sangat berharga bagi saya yang baru saja dua minggu tinggal di Jepang. Terima kasih kawan-kawan PPI Kansai atas kebaikan kalian semua... saya doakan semoga studinya pada lancar...aamiiiin.
 


Jumat, 06 Desember 2019

Wisata Kota Kobe dan Osaka

Masih bersama wisatawan asal Indonesia (baca bagian 1 : Wisata Kyoto). Untuk menuju Kota Kobe, dari Kyoto Station kami mengambil kereta JR Rapid dengan menempuh waktu sekitar 52 menit dan harga tiketnya 1080 Yen. Tujuan pertama kami adalah stasiun Sannomiya Kobe. Keluar dari stasiun butuh sekitar 15 menit berjalan kaki untuk mencapai Sannomiya Kobe yang merupakan sebuah pusat perbelanjaan. Disini kami bisa menemukan banyak pusat penjualan fashion dan aksesories dengan suasana santai.  

Selanjutnya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit ke arah barat menuju stasiun Motomachi maka sampailah kami di Kobe Chinatown. Sepanjang wilayah Chinatown ini banyak sekali penjual makanan khas China, namun dari informasi yang kami dapat rata-rata makanan yang dijual disini merupakan makanan tidak halal bagi kami yang muslim. Jadi kami hanya berjalan-jalan menyusuri hampir setiap sudut Chinatown ini sambil mengambil gambar.


Untuk urusan makan, kami memilih untuk mencoba Kobe Beef yang terkenal itu. Kobe Beef atau Daging Sapi Kobe adalah daya tarik utama di Prefektur Hyogo Jepang. Menu steak setengah matang sangat menggugah selera. Harganya lumayan mahal, sekitar 2500 Yen atau sekitar Rp. 312.500,- per 250 gram. Masih tidak ada label halal tapi setidaknya kami yakin bahwa bahan utamanya adalah daging sapi (halal), jadi dengan diawali bismillah tiga kali kami pun menyantapnya......


Sebelum meninggalkan kawasan ini, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh yaitu berupa sepatu Onitsuka Tiger. Harganya lumayan mahal, yaitu sekitar 9.000 - 16.000 Yen dan bahkan lebih. Namun demi hadiah ulang tahun istri, dibungkus deh sepatunya. Bagi para wisatawan, diberikan free pajak untuk pembelian sepatu Onitsuka Tiger dengan menunjukkan Paspor masing-masing.


Perjalanan dilanjutkan ke Port Kobe, untuk mencapai Port Kobe kami mengambil JR Kobe Line dan turun di Kobe Station. Keluar dari Stasiun Kobe langsung berjalan kaki ke Kobe Harborland. Kobe Harborland adalah tempat perbelanjaan dan hiburan yang berada di sepanjang tepi daerah pelabuhan Kobe, menawarkan banyak kafe, restoran, toko-toko dan hiburan lainnya. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi Kobe Harborland, kami langsung menuju Port Kobe yang masih berada dalam satu kawasan. Pelabuhan Kobe merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Jepang. 



Satu lokasi yang tidak sempat kami singgahi adalah Mesjid Kobe. Mesjid ini merupakan mesjid tertua di Jepang yang didirikan tahun 1935. Mesjid Kobe menggunakan arsitektur Turki tradisional. Konon mesjid Kobe merupakan salah satu bangunan yang selamat dari dua kejadian besar yaitu Bom pada perang dunia ke-2 tahun 1945 dan gempa Kobe tahun 1995 yang berkekuatan 7.3 SR.... Subhanallah....Semoga suatu saat kami dapat kesempatan mengunjungi mesjid Kobe....Aamiiiin.

Karena sudah malam, perjalanan ke Osaka kami tunda esok harinya.
 
Dan besoknya kami pun baru bisa sampai Kota Osaka setelah sore hari karena adanya beberapa kesibukan di Lab Kampus. Tujuan utama kami di Osaka adalah Dotonbori Osaka. Dotonbori dapat disebut juga 'Malioboro' nya Osaka. Nama Dotonbori digunakan untuk menyebut kawasan yang membentang sepanjang Kanal Dotonbori, dari Jembatan Dotonboribashi hingga ke Jembatan Nipponbashi di Distrik Namba, Osaka. Di sepanjang kanal ini, kami bisa menyaksikan aneka pertokoan yang bikin ngiler. Sebelum pulang kami mencoba Spicy Ramen Halal di Dotonbori, rasanya lumayan pedas. Alhamdulillah, nemu juga makanan yang tidak hambar di sini dan yang terpenting halal.................. Bismillah 3x.








Sampai disini tugas kami sebagai tour guide dinyatakan selesai, karena rombongan wisatawan dari Indonesia tersebut akan bergerak menuju Tokyo untuk kembali ke Indonesia keesokan harinya. Selamat jalan semoga lancar sampai tujuan.....

Wisata Kyoto : Jogja nya Jepang

Hari itu (26 Maret 2019) kami menjadi tour guide dadakan untuk empat orang wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke kota Kyoto-Jepang. Kyoto terkenal sebagai kota Budaya, mungkin mirip kota Jogjakarta di Indonesia. Bagi yang ingin mempelajari budaya Jepang lebih dalam, Kyoto lah tempatnya. Mulai dari bangunan-bangunan bersejarah, pakaian, makanan, serta kesenian tradisional. Apa saja budaya tradisional Jepang, dapat kita nikmati dan pelajari di Kyoto.

Perjalanan kami dimulai dari Kyoto Station yang merupakan stasiun kereta api terbesar di kota Kyoto. Kami sendiri merupakan Invited Researcher pada Disaster Prevention Research Institute - Kyoto University (DPRI-KU), yang sudah berada di Kyoto lebih dari 1 bulan. Dan masa penelitian kami tinggal satu minggu saja yang tersisa. Jadi klop deh, karena kami sendiri juga ingin berwisata di Kyoto sebelum pulang ke tanah air. Di depan Kyoto Station, ada salah satu icon kota Kyoto yaitu Kyoto Tower. Mengingat terbatasnya waktu, kami memutuskan untuk tidak mencoba naik ke puncak Kyoto Tower, cukup foto-foto dengan latar belakang gedung tinggi tersebut.
Di Depan Kyoto Station
Kyoto Tower
Dari Kyoto Station tujuan pertama kami adalah Kuil Fushimi Inari yang terkenal sangat instragramable itu. Untuk mencapai kuil Fushimi Inari cukup dengan satu kali naik kereta JR Nara Line dan turun di Inari Station. Selanjutnya tinggal berjalan beberapa menit maka kami sampai di kuil dimaksud. Kuil Fushimi Inari disebut juga dengan kuil 10 ribu gerbang (Tori) yang merupakan sumbangan dari perorangan atau perusahaan. Gerbang tersebut berbentuk pilar berwarna orange dengan tulisan berwarna hitam yang menunjukkan nama orang atau perusahaan yang menyumbangkannya.




Selanjutnya kami kembali ke kota Kyoto untuk sekedar melihat-lihat dan membeli oleh-oleh di Sanjo yang merupakan sebuah market yang tertata rapi dan bersih. Setelah mengelilingi setiap sudut Sanjo, kami langsung berjalan kaki menuju Gion. Kawasan Gion adalah salah satu tempat di Kyoto dimana wisatawan bisa menikmati suasana tradisional khas Jepang. Di Distrik Gion inilah para Geisha tinggal dan melayani para tamu. Hari itu kami tidak beruntung karena tidak dapat bertemu dengan Geisha (Seniman Tradisional Jepang) ataupun Maiko (Geisha Kecil). Kami hanya berjalan berkeliling menyusuri Jalan Hanamikoji Dori dan sekitarnya sambil mengambil foto. 
 
Ada yang menarik dari Gion saat ini, kabar terbaru menyebutkan bahwa sejak 25 Oktober 2019 pemerintah Perfektur Kyoto melarang mengambil gambar atau foto di kawasan privat Gion. Keputusan ini diambil karena banyaknya wisatawan yang dianggap melampaui batas ketika berada di kawasan Gion misalnya : memaksa Geisha untuk berfoto, merusak dan mengotori halaman rumah warga hanya untuk berfoto dan bahkan ada yang mencuri lampion di rumah warga dan toko suvenir. Jika tertangkap tangan mengambil gambar di area terlarang tersebut, maka siap-siap denda 10.000 Yen akan menanti.
Sanjo
Jalan Hanamikoji Dori GION
Jalan Hanamikoji Dori GION
 
Perjalanan dilanjutkan ke Kuil Yashaka Shrine (masih dengan berjalan kaki tentunya). Kuil Yasaka juga dikenal sebagai kuil percintaan terbesar di Kyoto. Pasangan suami istri dewa bernama Susanoo no Mikoto dan Kushinada Hime no Mikoto dipercaya bersemayam di kuil ini. Keduanya dipercaya memiliki kekuatan cinta yang besar karena hubungan mereka yang sangat baik. Terlihat banyak ema (palet kayu untuk menulis permohonan) berbentuk hati yang tergantung di dalam area kuil.
Pintu Gerbang Kuil Yashaka Shrine



Perjalanan yang cukup melelahkan namun saya dan rombongan sangat terhibur waktu itu, untuk melepas penat kami beristirahat di pinggir sungai Kamogawa. Sungai ini membelah kota Kyoto menjadi wilayah barat dan timur. Air sungai Kamogawa berasal dari utara Kyoto yaitu gunung Sajikigatake dengan air yang jernih dan banyak bebek dan burung yang sepertinya memang dipelihara. Setelah menikmati suasana sungai Kamogawa sambil beristirahat, kami memutuskan untuk mencukupkan wisata kota Kyoto sampai disitu saja. Setelah melepas lelah di sungai Kamogawa, kami bergegas menuju stasiun kereta untuk menuju kota Kobe dan Osaka.



Silahkan baca catatan saya berkunjung ke Kota Kobe dan Osaka ya gaesss, klik  Disini....